CAPAIAN HASIL IB KAMBING PE WILAYAH PANTAI

PENERAPAN TEKNOLOGI INSEMINASI BUATAN (IB) DAN KAJIAN PRODUKTIFITAS KAMBING PERANAKAN ETAWA (PE) DAERAH PANTAI DALAM KERANGKA PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DI KECAMATAN WATES

Oleh : Setyo Utomo

(Dosen Pengabdi pada program IbW Kec. Wates th. 2009, 2010, 2011)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pelaksanaan kegiatan IbW di kecamatan Wates selama kurun waktu 3 tahun telah membantu berrbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat.  Permasalahan tersebut khususnya berkaitan dengan kesiapan masyarakat kecamatan Wates dalam menghadapi datangnya industry-industri maupun lembaga-lembaga yang berskala Nasional.  Diharapakan masyarakat mampu memanfaatkan peluang usaha yang ada dengan munculnya berbagai kegiatan yang menyangkut banyak kebutuhan hidup terutama  masalah kebutuhan pangan, baik bagi pendatang maupun masyarakat local yang ada.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut berbagai upaya telah dilakukan dari persiapan pertanian dalam greenhouse, budidaya buah berkualitas (papaya), realisasi desa industry peyek di Giripeni, pengembangan kebutuhan pangan asal ternak seperti usaha bibit dan budidaya pemeliharaan itik di Sogan, pengembangan industry kaleng peralatan pertanian, pengembangan industry berbasis bahan baku local (pisang), aneka ternak (kelinci), pengembangan budidaya dan agribisnis jamur, pengembangan sapi potong, dan  pengembangan kambing PE di wilayah pesisir pantai.

Pengembangan kambing PE di wilayah pantai dalam program IbW Kecamatan wates di demonstrasikan plot (demplot) di desa Karang wuni yang memiliki potensi pakan ternak kambing berlimpah terutama pada saat musim penghujan.  Kambing PE umumnya dikembangkan untuk dua tujuan sekaligus yaitu sebagai ternak eksotik (harga jauh di atas harga normal) dan untuk tujuan produksi susu.  Kambing PE yang memiliki nilai eksotik tinggi mempunyai nilai ekonomis sangat tinggi, sebagai gambaran untuk kondisi sekarang (2011) harga seekor cempe umur 1 -2 bulan mencapai harga sampai kisaran 3 – 4 juta.  Hal yang sama juga untuk produksi susunya, harga per liter susu kambing PE mencapai harga  Rp. 25.000,- /liter.  Diyakini oleh masyarakat, susu kambing PE mempunyai daya pengobatan dan berkhasiat.  Sebagai gambaran berikut ditampilkan perbandingan kandungan susu kambing PE dengan susu sapi perah.

Kambing PE berasal dari kawasan Sungai Jamuna di daerah Etawah, Uttar Pradesh, India. Kambing ini merupakan kambing terbesar di India (BB jantan 44kg dan betina 36kg), bersifat dwi-fungsi  yaitu dipelihara untuk bakalan daging dan produksi susu. Pemeliharaan kambing PE memberikan kelebihan kepada penternak disebabkan tubuh relatif kecil dibandingkan dengan ternak ruminansia dan cepat mencapai dewasa kelamin. efisiensi reproduksinya tinggi karena mampu beranak tiga kali dalam dua tahun dengan littersize dua ekor atau lebih. Didatangkan  ke Indonesia dan berkembang biak secara baik. Karakter kambing Ettawa mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap penyakit. Oleh karena itu penjagaan kesehatan kambing ini adalah mudah, memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan disebabkan daerah asalnya memiliki kondisi iklim yang sama dengan di Indonesia.

Kambing Peranakan Etawa (PE) merupakan kambing tipe perah, masuk ke Indonesia dibawa oleh Belanda pada jaman penjajahan, dikawinkan dengan kambing kacang dan berkembang sebagai kambing penghasil susu, sehingga bentuk tubuh, sifat dan ciri-cirinya berada di antara kambing Etawa dan kambing kacang, yaitu: Bentuk kepala bagian hidung ke atas melengkung atau cembung, telinga panjang menggantung ke bawah, bulu yang indah dan warnanya beragam dari belang putih, merah coklat, bercak hitam atau kombinasi ketiganya, pada bagian belakang memiliki bulu yang panjang dan tebal (http://caricadieng.wordpress.com/2008/11/27/budidaya-kambing-peranakan-etawah/).

Kambing PE dapat beradaptasi dengan kondisi iklim Indonesia, mudah dipelihara dan merupakan ternak jenis unggul penghasil daging juga susu. Produksi daging kambing PE lebih tinggi dibandingkan dengan kambing kacang. Bobot badan Kambing PE jantan dewasa antara 65 – 90 kg dan yang betina antara 45 – 70 kg. Produksi susu bisa mencapai 1 – 3 liter/hari. Kambing PE juga sangat prospektif untuk usaha pembibitan. Harga anak kambing PE bisa 3 – 5 kali lipat harga anak kambing lokal. Kambing PE beranak pertama kali pada umur 16 – 18 bulan dan dalam waktu 2 tahun bisa beranak 3 kali jika diusahakan secara intensif dengan hasil anak kembar 2 – 3 ekor/induk. (http://duniaveteriner.com/2009/09/ternak-kambing-pe-sebagai-penghasil-susu/print).

Kambing perah yang banyak dikembangkan di Indonesia umumya kambing peranakan Etawah (PE), yang umumnya masih lebih dominan sebagai sumber daging dibandingkan dengan sumber air susu. Susu kambing belum dikenal secara Iuas seperti susu sapi padahal memiliki komposisi kimia yang cukup baik (kandungan protein 4,3% dan lemak 2,8%) relatif lebih baik dibandingkan kandungan protein susu sapi dengan protein 3,8% dan lemak 5,0% (Sunarlim dkk, 1992). Disamping itu dibandingkan dengan susu sapi, susu kambing lebih mudah dicerna, karena ukuran molekul lemak susu kambing lebih kecil dan secara alamiah sudah berada dalam keadaan homogen (Sunarlim dkk, 1992).

Produksi susu kambing PE relatif tinggi dan berlebih jika hanya untuk mencukupi kebutuhan anak sehingga dapat dimanfaatkan untuk manusia. Kandungan gizi susu kambing yaitu protein 3,7 %, lemak 4,1 %, gula 4,6 % dan mineral 0,80 %. Susu kambing juga mempunyai khasiat sebagai berikut : Continue reading