CAPAIAN HASIL IB KAMBING PE WILAYAH PANTAI

PENERAPAN TEKNOLOGI INSEMINASI BUATAN (IB) DAN KAJIAN PRODUKTIFITAS KAMBING PERANAKAN ETAWA (PE) DAERAH PANTAI DALAM KERANGKA PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DI KECAMATAN WATES

Oleh : Setyo Utomo

(Dosen Pengabdi pada program IbW Kec. Wates th. 2009, 2010, 2011)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pelaksanaan kegiatan IbW di kecamatan Wates selama kurun waktu 3 tahun telah membantu berrbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat.  Permasalahan tersebut khususnya berkaitan dengan kesiapan masyarakat kecamatan Wates dalam menghadapi datangnya industry-industri maupun lembaga-lembaga yang berskala Nasional.  Diharapakan masyarakat mampu memanfaatkan peluang usaha yang ada dengan munculnya berbagai kegiatan yang menyangkut banyak kebutuhan hidup terutama  masalah kebutuhan pangan, baik bagi pendatang maupun masyarakat local yang ada.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut berbagai upaya telah dilakukan dari persiapan pertanian dalam greenhouse, budidaya buah berkualitas (papaya), realisasi desa industry peyek di Giripeni, pengembangan kebutuhan pangan asal ternak seperti usaha bibit dan budidaya pemeliharaan itik di Sogan, pengembangan industry kaleng peralatan pertanian, pengembangan industry berbasis bahan baku local (pisang), aneka ternak (kelinci), pengembangan budidaya dan agribisnis jamur, pengembangan sapi potong, dan  pengembangan kambing PE di wilayah pesisir pantai.

Pengembangan kambing PE di wilayah pantai dalam program IbW Kecamatan wates di demonstrasikan plot (demplot) di desa Karang wuni yang memiliki potensi pakan ternak kambing berlimpah terutama pada saat musim penghujan.  Kambing PE umumnya dikembangkan untuk dua tujuan sekaligus yaitu sebagai ternak eksotik (harga jauh di atas harga normal) dan untuk tujuan produksi susu.  Kambing PE yang memiliki nilai eksotik tinggi mempunyai nilai ekonomis sangat tinggi, sebagai gambaran untuk kondisi sekarang (2011) harga seekor cempe umur 1 -2 bulan mencapai harga sampai kisaran 3 – 4 juta.  Hal yang sama juga untuk produksi susunya, harga per liter susu kambing PE mencapai harga  Rp. 25.000,- /liter.  Diyakini oleh masyarakat, susu kambing PE mempunyai daya pengobatan dan berkhasiat.  Sebagai gambaran berikut ditampilkan perbandingan kandungan susu kambing PE dengan susu sapi perah.

Kambing PE berasal dari kawasan Sungai Jamuna di daerah Etawah, Uttar Pradesh, India. Kambing ini merupakan kambing terbesar di India (BB jantan 44kg dan betina 36kg), bersifat dwi-fungsi  yaitu dipelihara untuk bakalan daging dan produksi susu. Pemeliharaan kambing PE memberikan kelebihan kepada penternak disebabkan tubuh relatif kecil dibandingkan dengan ternak ruminansia dan cepat mencapai dewasa kelamin. efisiensi reproduksinya tinggi karena mampu beranak tiga kali dalam dua tahun dengan littersize dua ekor atau lebih. Didatangkan  ke Indonesia dan berkembang biak secara baik. Karakter kambing Ettawa mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap penyakit. Oleh karena itu penjagaan kesehatan kambing ini adalah mudah, memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan disebabkan daerah asalnya memiliki kondisi iklim yang sama dengan di Indonesia.

Kambing Peranakan Etawa (PE) merupakan kambing tipe perah, masuk ke Indonesia dibawa oleh Belanda pada jaman penjajahan, dikawinkan dengan kambing kacang dan berkembang sebagai kambing penghasil susu, sehingga bentuk tubuh, sifat dan ciri-cirinya berada di antara kambing Etawa dan kambing kacang, yaitu: Bentuk kepala bagian hidung ke atas melengkung atau cembung, telinga panjang menggantung ke bawah, bulu yang indah dan warnanya beragam dari belang putih, merah coklat, bercak hitam atau kombinasi ketiganya, pada bagian belakang memiliki bulu yang panjang dan tebal (http://caricadieng.wordpress.com/2008/11/27/budidaya-kambing-peranakan-etawah/).

Kambing PE dapat beradaptasi dengan kondisi iklim Indonesia, mudah dipelihara dan merupakan ternak jenis unggul penghasil daging juga susu. Produksi daging kambing PE lebih tinggi dibandingkan dengan kambing kacang. Bobot badan Kambing PE jantan dewasa antara 65 – 90 kg dan yang betina antara 45 – 70 kg. Produksi susu bisa mencapai 1 – 3 liter/hari. Kambing PE juga sangat prospektif untuk usaha pembibitan. Harga anak kambing PE bisa 3 – 5 kali lipat harga anak kambing lokal. Kambing PE beranak pertama kali pada umur 16 – 18 bulan dan dalam waktu 2 tahun bisa beranak 3 kali jika diusahakan secara intensif dengan hasil anak kembar 2 – 3 ekor/induk. (http://duniaveteriner.com/2009/09/ternak-kambing-pe-sebagai-penghasil-susu/print).

Kambing perah yang banyak dikembangkan di Indonesia umumya kambing peranakan Etawah (PE), yang umumnya masih lebih dominan sebagai sumber daging dibandingkan dengan sumber air susu. Susu kambing belum dikenal secara Iuas seperti susu sapi padahal memiliki komposisi kimia yang cukup baik (kandungan protein 4,3% dan lemak 2,8%) relatif lebih baik dibandingkan kandungan protein susu sapi dengan protein 3,8% dan lemak 5,0% (Sunarlim dkk, 1992). Disamping itu dibandingkan dengan susu sapi, susu kambing lebih mudah dicerna, karena ukuran molekul lemak susu kambing lebih kecil dan secara alamiah sudah berada dalam keadaan homogen (Sunarlim dkk, 1992).

Produksi susu kambing PE relatif tinggi dan berlebih jika hanya untuk mencukupi kebutuhan anak sehingga dapat dimanfaatkan untuk manusia. Kandungan gizi susu kambing yaitu protein 3,7 %, lemak 4,1 %, gula 4,6 % dan mineral 0,80 %. Susu kambing juga mempunyai khasiat sebagai berikut :

a.    Membantu penyembuhan penyakit paru-paru (TBC, asma, flek)

b.    Mencegah osteophorosis

c.    Menanggulangi penyakit gatal pada kulit

d.    Meningkatkan pertumbuhan dan kecerdasan anak

e.    Mengencangkan dan menghaluskan kulit

f.     Menambah gairah seksual.

Berikut ini kandungan susu kambing dibanding dengan susu sapi dan manusia :

Jenis susu

Air

Lemak

Protein

Gula

% Abu

Ibu

87.8

3.8

1.2

7.0

0.2

Sapi

87.3

3.7

3.3

4.8

0.7

Kambing

87.6

4.1

3.7

4.7

0.7

 

Kambing PE memiliki tubuh lebih besar dan tinggi dibandingkan dengan kambing kacang dan terdapat tanduk yang melengkung ke atas dan ke belakang, bulunya agak lebat di bagian punggung dan daerah leher. Bulunya agak kusut dan berwarna campuran hitam dan kekuningan. Berat  badan kambing PE saat lahir dan dewasa seperti terlihat pada tabel berikut :

Berat Lahir

Berat Dewasa

Jantan: 3 – 4 kg

Jantan: 68 – 91 kg

Betina: 3 – 4 kg

Betina: 36 -63 kg

 

Agar peningkatan populasi ternak kambing maksimal, maka harus diusahakan agar kambing bisa beranak minimal 3 kali dalam dua tahun. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :

a.    Kambing mencapai dewasa kelamin pada umur 6 s/d 10 bulan, dan sebaiknya dikawinkan pada umur 10-12 bulan atau saat bobot badan mencapai 55 – 60 kg.

b.    Lama birahi 24 – 45 jam, siklus birahi berselang selama 17 – 21 hari.

c.    Tanda-tanda birahi : gelisah, nafsu makan dan minum menurun, ekor sering dikibaskan, sering kencing, kemaluan bengkak dan mau/diam bila dinaiki.

d.    Ratio jantan dan betina = 1 : 10.

e.    Kambing PE berbadan besar, berat badan betina kurang lebih 25 kg dan jantan kurang lebih 35 kg, tinggi gumba yang betina kurang lebih 60 cm dan yang jantan kurang lebih 70 cm. Jantan maupun betina memiliki tanduk pendek dan ramping. Kambing PE dapat menghasilkan anak antara 1–4 ekor per kelahiran atau rata-rata dua ekor. Waktu kawin kambing PE yang baik pada usia 15–18 bulan, karena pada waktu itu alat reproduksinya sudah berkembang sempurna.

f.     Calon induk dan pejantan dipilih berdasarkan catatan produksi. Calon induk yaitu: bobot lahir antara 1,8 – 2 kg; berat sapih antara 6-8 kg; berat umur satu tahun (yearling) antara 20 – 25 kg; pertambahan berat badan harian antara 80 – 120 g/ekor/hari, jumlah anak sekelahiran (litter size) 1,5-1,8 ekor/induk; umur antara 8-12 bulan; mempunyai efisiensi reproduksi yang baik; tubuh tegap, sehat, lincah, dan tidak cacat; tidak pernah terserang penyakit; bentuk ambing simetris, sedikit menggantung, dan puting susu normal (tidak bercabang); bentuk punggung lurus; dan bulu mengkilap.

g.    Calon pejantan yaitu : umur antara 1,5-3 tahun; penampilan bagus dan tegap; memiliki catatan atau informasi produksi maupun reproduksi yang superior, yaitu berasal dari induk yang jumlah anak (litter size) 1,5 – 1,8 ekor/induk, pertambahan berat badan harian (80-120 g/ekor/hari), bentuk scrotum simetris dan mempunyai panjang lingkar 28-30 cm dan tidak nampak bekas abses permanen pada kulitnya, libido tinggi, motilitas sperma 90% dan progresif.

h.    Dewasa kelamin pada umur sekitar 10 bulan, kemudian dapat dikawinkan pada umur 10-12 bulan dengan berat badan sekitar 55 kg. Lama birahi sekitar 35 jam, siklus birahi berselang selama 3 minggu. Pada saat birahi merupakan saat yang tepat untuk dikawinkan, dengan tanda-tandanya yaitu: gelisah, nafsu makan dan minum menurun, ekor sering dikibaskan, sering kencing, kemaluan bengkak dan diam bila dinaiki. Masa bunting sekitar 5 bulan, serta masa melahirkan, penyapihan dan istirahat ± 2 bulan. Diusahakan agar kambing bisa beranak minimal 3 kali dalam dua tahun (http://duniaveteriner.com/2009/09/ternak-kambing-pe-sebagai-penghasil-susu/print).

Perkawinan dapat menghasilkan kebuntingan bila dilakukan pada saat kambing betina dalam keadaan birahi. Kambing betina birahi pertama pada saat umur 6 – 8 bulan tetapi belum dapat dikawinkan menunggu dewasa tubuh pada umur 10 – 12. Sedangkan kambing jantan sebaiknya dikawinkan setelah umur 12 bulan. Tanda – tanda birahi pada kambing betina antara lain :

a.    Gelisah, tidak nafsu makan, ekor dikibas – kibaskan serta terus – menerus mengembik

b.    Alat kelamin bengkak, berwarna merah serta mengeluarkan sedikit lendir bening

c.    Masa birahi berlangsung selama 24 – 45 jam dan akan terulang dengan siklus 18 – 20 hari

Secara umum ternak kambing setiap hari membutuhkan pakan hijauan sebanyak 10 % dari bobot badan, tetapi dalam pemberiannya 2 kali lipat karena kambing bersifat pemilih. Pemberian dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari.

Pemberian konsentrat diberikan untuk menambah dan melengkapi kebutuhan gizi dengan jumlah 1% dari bobot badan. Pemberian konsentrat dilakukan pada pagi hari.Untuk mencukupi kebutuhan mineral maka diberikan garam dapur yang ditempatkan pada wadah khusus yang ditempatkan pada wadah khusus dan kambing akan menjilati sesuai kebutuhan.

Pakan kambing perah utamanya terdiri atas 2 jenis bahan, yaitu pakan kasar danpakan konsentratPakan kasar terdiri atas hijauan (rumput, legume dan limbah pertanian), ini merupakan unsur pakan  utama  dengan proporsi jumlah dominan (banyak) pada komposisi ransum.

Pakan konsentrat merupakan pakan tambahan, kandungan nutrient yang baik pada pakan konsentrat adalah mengandung serat kasar (SK)< 18%, kandungan zat pembentuk energy (TDN) > 60% dan mengandung protein kering tinggi.

Bahan penyusun konsentrat biasanya dibedakan menjadi bahan sumber energy,bahan sumber protein dan bahan sumber mineral. Komposisi masing-masing sangat ditentukan oleh faktor fisiologis dan tujuan pemeliharaan ternak. Misalnya ternak kambing perah bunting membutuhkan komposisi konsentrat berbeda dengan ternak dara. Bagitu juga ternak menjelang ikut kontes membutuhkan komposisi konsentrat berbeda dengan yang tidak sedang disiapkan untuk kontes http://kandangbambu.wordpress.com/2010/05/29/pemahaman-dasar-pola-pemberian-pakan-pada-ternak-kambing-perah/

Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan program village breeding center kambing PE di wilayah pesisir pantai adalah dalam kerangka pemberdayaan ekonomi masyarakat pantai melalui budidaya kambing PE yang bertujuan menghasilkan keuntungan tripel yaitu nilai eksotiknya, produksi susu kambing PE dan terakhir sebagai penghasil daging.  Pengembangan kambing PE di wilayah pantai sangat tepat oleh karena ketersediaan pakan rambanan cukup melimpah namun kondisi lingkungan yang relative panas dan kecepatan angin cukup tinggi merupakan habitat yang berbeda dengan habitat yang selama ini yaitu kondisi temperature rendah (dingin) dan wilayah yang berbukit.  Ketersediaan bibit PE yang berkualitas di wilayah pantai menjadi masalah utama dan tingkat produktifitasnya merupan hal yang masih perlu dikaji lebih mendalam, kaitannya dengan kondisi lingkungan yang berbeda dengan kebiasaan lingkungan PE selama ini.

Solusi yang sudah dilaksanakan

Penerapan IB kambing PE dengan mengambil pejantan unggul (seharga RP 100 juta) menjadi kebutuhan utama masyarakat peternak PE di wilayah pantai.  Umumnya mereka mengawinkan indukannya dengan membawa secara langsung ke wilayah pegunungan Menoreh dengan memberikan cost sebesar 1 juta/kawin.  Menkaji tingkat produktifitas kambing PE yang ada di wilayah pantai akan menjadikan pedoman pengembangan dan manipulasi lingkungan yang dibutuhkan untuk pengembangan PE di wilayah pantai

Kambing PE di Kulon Progo daerah pengembangannya adalah disepanjang pegunungan Menoreh, yaitu di wilayah kecamatan Girimulyo, kecamatan Kokap dan kecamatan Samigaluh.  Umumnya taraf  hidup masyarakat di wilayah tersebut sangat berdaya secara ekonomi, dari hasil jual beli kambing PEjenis eksotik.  Rata-rata pendapatan dari mereka setiap bulannya dengan pemeliharaan sampai 10 ekor mencapai angka tidak kurang dari 3 juta/bulan.

Berkembangnya kambing PE di wilayah pegunungan Menoreh didukung oleh potensi pakan rambanan yang produksinya tinggi, sehingga kebutuhan pakan tercukupi dengan baik. Disamping itu juga tersedianya segmen pasar khusus untuk penggemar kambing PE, yaitu eksistensi pasar PE di Pendem, Kaligesing, Purworejo.  PE ras kaligesing, kokap, girimulyo sudah merambah tidak saja secara nasional namun sudah sampai ke manca Negara, yaitu di Malaysia.  Adanya perkembangan kondisi ini, masyarakat di pegunungan Menoreh memiliki kemampuan ekonomi yang jauh di atas rata-rata masyarakat Kulon Progo pada umumnya.

Wilayah pantai memiliki potensi pakan ternak yang luar biasa, terutama pantai yang telah dibudidayakan sebagai areal pertanian, yaitu keberadaan tanaman pemecah angin yang umumnya berasal dari tanaman rambanan.  Rambanan sangat cocok untuk pakan kambing.  Sebagian masyarakat telah memanfaatkan potensi pakan ini dengan memelihara berbagai jenis ternak ruminansia, diantaranya sebagian kecil memelihara kambing bligon (keturunan kambing PE).

Produktifitas kambing PE (bligon) yang dipelihara di wilayah pantai telah di kaji oleh tim IbW Kecamatan Wates untuk dapat dijadikan sebagai pedoman pengembangan oleh karena ada perbedaan habitat aslinya yaitu didaerah pegunungan yang bersuhu dingin.

Permasalahan utama yang dialami oleh peternak kambing PE di wilayah pantai adalah pada bibit PE yang berkualitas. Sementara pejantan yang berkualitas berada di wilayah atas (Menoreh), dan untuk dapat memperoleh keturunan kambing PE berkualitas per sekali kawin umumnya peternak yang mampu akan membayarnya sampai 1 juta rupiah/sekali kawin.  Tingginya biaya pengawinan ternak ini, ditangkap oleh tim IbW untuk menerapkan teknologi Inseminasi Buatan (IB=kawin suntik) guna membantu masyarakat pantai yang memelihara kambing PE agar mempunyai keturunan kambing PE yang berkualitas sehingga mampu menghasilkan kambing-kambing yang berkualitas dan pada akhirnya mampu mendapatkan keuntungan usaha yang jauh lebih tinggi sebgaiamana saudara-saudaranya di pegunungan Menoreh.

Inseminasi Buatan (selanjutnya disingkat= IB)  merupakan metoda perkawinan yang dilakukan dengan alat dan bantuan manusia., memiliki keuntungan dalam efisiensi penggunaan pejantan unggul (Hafez, 1989; Partodihardjo, 1987; Djanuar, 1992).  Melalui IB pejantan yang biasanya sekali kawin hanya menghasilkan 1 – 2 ekor/kebuntingan, dengan IB pejantan sekali kawin mampu mengawini ternak sampai 100 ekor bahkan lebih.

  1. a.    Kajian Produktifitas Kambing PE di wilayah Pantai

Pendataan produktifitas kambing PE dilakukan secara sensus terhadap seluruh kambing PE yang ada di Karang Wuni.  Terhadap 7 responden peternak kambing PE yang memiliki 63 ekor kambing PE dan bligon dalam berbagai fase dilakukan pengukuran dan penimbangan guna dibandingkan tingkat produktifitasnya dengan umumnya kambing PE yang dipelihara di wilayah pegunungan.  Kajian dilakukan terhadap parameter terukur seperti berat badan dan tinggi gumba (induk dan pejantan dewasa) dalam berbagai fase (induk, pejantan, anakan 1 bulan, anakan 3 bulan, anakan 6 -8 bulan).  Data yang diperoleh kemudian di analisis secara diskriptife untuk dibandingkan dengan prestasi kambing PE pada umumnya.  Hasilnya adalah berupa pertimbangan kemungkinannya dikembangkan secara besar-besaran kambing PE di wilayah pantai.

Gambar Kambing PE berbagai fase

 

  1. b.     Penerapan teknologi IB

 

Tahapan pelaksanaan alih teknologi dan penerapan IB di masyarakat adalah sbb :

  1.  Pemilihan calon induk yang akan di Inseminasi dengan ayarat tidak sedang bunting, waktunya untuk beranak pertama, terpilih sebanyak 20 ekor
  2. Pelaksanaan penyerentakan birahi, dilakukan agar pelaksanaan IB dapat berhasil dengan baik oleh karena pelaksanaannya harus dilaksanakan secara bersama-sama oleh karena semen yang digunakan adalah semen segar/cair, sehingga dalam tempo selama 120 menit semen harus sudah habis digunakan untuk IB.  Sinkronisasi ini menggunakan preparat hormone prostaglandin (PGF 2 alpa) dengan dosis 0,5 ml/ekor yang diberikan secara IM di daerah paha atas kaki belakang.
  3. Penampungan semen pejantan PE terpilih
  4. Pelaksnaan Inseminasi
  5. Penentuan kebuntingan.

PEMILIHAN CALON INDUK

Pemilihan calon induk dilakukan dengan bantuan kelompok untuk mendata semua pemilik kambing PE yang ada di wilayah desa Karang Wuni dengan jarak ke tepi pantai kurang dari 2 km.  Dari sejumlah kambing betina yang ada terpilih 18 ekor kambing yang siap dilakukan sinkronisasi birahi.

PELAKSANAAN SINKRONISASI BIRAHI

Sinkronisasi dilakukan menggunakan suntikan hormone luteolisis PGF2 alpa secara IM. Penyuntikan dilakukan sekali dan pada 72 jam kemudian di amati tanda-tandanya yaitu (vulva merah dan bengkak, kekuar lender) dan ternyata dari 18 ekor dinyatakan birahi semua. Kemudian pelaksanaan penyuntikan PGF 2 alpa dilakukan dengan mengunjungi ke masing-masing pemilik ternak, dan berhasil dilakukan sinkronisasi.

PENAMPUNGAN SEMEN

Penampungan semen menggunakan metoda vagina buatan, yaitu pejantan PE dikoleksi semennya menggunakan cara seperti aktifitas pada kawin alam.  Teaser berupa betina birahi digunakan sebagai pemancing (pengusik) (Gambar pelaksanaan penampungan)

PEMERIKSAAN DAN PENGENCERAN SEMEN

Pemeriksaan secara makroskopis semen yang diperoleh dilakukan terhadap warna semen, konsistensi dan volume semen. Kemudian semen yang diperoleh segera dilakukan pengenceran menggunakan citrate kuning telur dengan perbandingan 7 bagian Na-sitrat dengan 1 bagian kuning telur, bersamaan dengan pengenceran sebagian sisa semen yang tertinggal di tabung penampung digunakan sebagai sampel pemeriksaan terhadap progresifitas spermatozoa dan gerak massa untuk memprediksikan konsentrasi sel per ml.  Pengenceran dilakukan sebanyak induk/calon induk yang akan di IB, yaitu 20 kali oleh karena induk yang tersedia sebanyak 16 ekor yang berhasil birahi. (Gambar pemeriksaan semen dan pengenceran semen)

PELAKSANAAN IB

IB dilakukan terhadap 16 ekor induk atau calon induk yang birahi setelah dilakukan sinkronisasi birahi.  IB dilaksanakan 72 jam setelah penyuntikan secara IM sebanyak 0,5 ml/ekor PGF 2α yang menunjukan tanda-tanda birahi seperti vulva bengkak, jika pada vestibulum dibuka Nampak memerah dan berlendir.  IB menggunakan metoda vaginal serviks metode, yaitu menggunakan deposisi semen pada bagian portio vaginalis cervicis dengan alat bantu berupa spuit 5 ml.  Konsentrasi semen segar yang digunakan sekitar 100 juta /IB/ekor.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. a.    Kajian Produktifitas Kambing PE di wilayah Pantai

Penelitian dilakukan terhadap 63  ekor kambing PE dalam berbagai fase yaitu jumlah induk produktif sebanyak  19 ekor, ternak  jantan produktif sebanyak 12 ekor,  jumlah anakan jantan <3 bulan   sebanyak   17 ekor, jumlah anakan betina < 3 bulan 9 ekor, anakan jantan umur 3 – 6 bulan  sebanyak 1 ekor,  anakan jantan umur 6 – 8 bulan sebanyak 4 ekor, anakan betina umur 6 – 8 bulan sebanyak 9 ekor, jumlah induk bunting sebanyak 2 ekor.

Induk produktif sebanyak 19 ekor dalam satu desa sebenarnya sudah cukup sebagai modal pengembangan kambing PE di sutu wilayah/desa.  Dalam tempo 5 tahun dengan rata-rata beranak 4 kali dengan littersize 2 ekor maka akan dihasilkan induk kambing PE produktif sebanyak 125 ekor dengan anakan sampai dengan umur 1 tahunan sekitar 240 ekor jantan betina.  Perhitungan ini belum termasuk sejumlah anakan betina yang jumlahnya 18 ekor.

Metoda pengambilan sampelnya  dilakukan secara sensus terhadap semua pemilik kambing PE yang berjumlah  7 orang. Kajian yang diawali dengan pendataan produksi dan reproduksi, diperoleh sebaran data produksi sbb .

Tabel 1.  Data hasil observasi lapangan untuk Berat Badan dan Panjang Bandan kambing PE di wilayah pantai

 

No. Fase Kambing Berat Badan  Panjang Badan Tinggi Gumba
1. Jantan Produktif/Dewasa 35,7 kg   69,5 cm
2. Betina Produktif/Indukan 37,2 kg   68,2 cm
3. Anakan < 1 bulan 2,5 kg    
4. Anakan 1-2 bulan 6,5 kg    
5. Pra sapih < 3 bl 10,45 kg    
6. Pasca sapih >3 -6 bulan 19,3 kg    
7. Pre pubertas > 6 bulan – 8 bulan 32,6 kg    

Diperoleh data berat badan untuk pejantan produktif rata-rata adalah 35,7 kg, induk produktif  37,2 kg,  dengan tinggi gumba untuk indukan betina 68,2 cm dan jantan produktif 69,5 cm,  umumnya kambing PE berbadan besar, berat badan betina kurang lebih 25 kg dan jantan kurang lebih 35 kg, tinggi gumba yang betina kurang lebih 60 cm dan yang jantan kurang lebih 70 cm (http://duniaveteriner.com/2009/09/ternak-kambing-pe-sebagai-penghasil-susu/print). Berdasarkan hal tersebut performans kambing PE khususnya indukan dan jantan produktif memeliki prestasi produksi yang sama dengan kambing PE pada umumnya.

berat badan anakan kurang dari 1 bulan 2,5 kg, anakan umur 1 – 2 bulan 6,5 kg, berat anakan saat disapih umur  3 bulan 10,45 kg sedangkan umumnya kambing PE disapih pada umur 6 – 8 kg , anakan lepas sapih sampai dengan umur 6 bulan 19,3 kg dan anakan 6 – 8 bulan menjelang pubertas adalah 32,6 kg.  Sebagai calon induk, bobot badan ini sudah melebihi, sebagaimana dinyatakan bahwa calon induk dan pejantan dipilih berdasarkan catatan produksi. Calon induk yaitu: bobot lahir antara 1,8 – 2 kg; berat sapih antara 6-8 kg; berat umur satu tahun (yearling) antara 20 – 25 kg; (http://duniaveteriner.com/2009/09/ternak-kambing-pe-sebagai-penghasil-susu/print).

 

Tabel 2.  Data reproduksi kambing PE wilayah pantai

No. Kinerja Reproduksi Waktu
1. Umur pertama kawin 12,4 bulan
2. Umur pertama beranak 17,5 bulan
3 EPP 3,5 bulan
4 PPM 3,5 bulan
5 Littersize 2,1 ekor
6 S/c 2 kali
7 Jarak beranak 9,5 bulan
8 Ras kambing PE : Bligon 30:70%

 

Berdasarkan data-data reproduksi diketahui bahwa umur pertama kawin untuk kambing PE yang ada di wilayah pantai adalah 12,4 bulan, ini menunjukan bahwa kinerja reproduksi untuk parameter tersebut umumnya berkisat antara 10-12  bulan sudah dikategorikan baik, sehingga umur beranak pertama dicapai pada umur 15 – 17 bulan. Litersize kambing PE di wilayah pantai adalah 2,1 ekor, umumnya kambing PE memiliki litersize antara 1,5 – 1,8 ekor/induk.  Kondisi yang relative sama antara kambing PE umumnya dengan PE daerah pantai disebabkan karena potensi pakan yang melimpah sehingga ketersediaan pakan tidak menjadi kendala karena produksi hormone reproduksi tidak terkendala (Partodihardjo, 1987), disamping itu efek temperature pantai terhadap kinerja produksi kambing PE yang dipelihara di wilayah pantai ternyata tidak berpengaruh.

Berdasarkan capaian S/C yang umumnya kambing PE memiliki S/C 1, sedangkan di daerah pantai memiliki S/C 2, hal ini disebabkan karena ketersediaan pejantan yang baik tidak selalu tersedia di lapangan, sehingga menyebabkan terjadinya keterlambatan mengawinkan.  S/C juga dipengaruhi oleh kondisi pejantan (Utomo, 2004).

  1.  Capaian Terapan Inseminasi Buatan (IB)

Berdasarkan penerapan IB terhadap kambing PE di wilayah pantai diketahui bahwa dari 18 ekor calon induk yang disinkronisasi estrusnya, terdapat 2 ekor yang mengalami keguguran karena pada saat dilakukan sinkronisasi induk dalam kondisi bunting sekitar 2 bulan. Sampai dengan NR 30 dari 16 ekor yang di IB belum menunjukan datangnya birahi, hal tersebut diasumsikan sementara induk bunting ( NR 30 = 100%).

Masyarakat sangat berharap penguasaan teknologi IB untuk perkawinan kambing PE, karena jika mengawinkan ternak menggunakan pejantan unggul yang berada di daerah pegunungan Menoreh umumnya peternak harus mengeluarkan biaya per kawin antara Rp 500.000,- – Rp1.000.000,-. Tetapi dengan IB biaya per ekor induk sekali kawin hanya sekitar Rp 50.000,-.

KESIMPULAN

Pemberdayaan ekonomi masyarakat pantai, terutama pantai di kecamatan Wates sebagai wilayah IbW dapat dilakukan dengan pemeliharaan kambing PE yang berorientasikan ke usaha profit.  Oleh karena rasio PE : Bligon masih cukup tinggi, persilangan dengan pejantan unggul menggunkan teknologi IB dirasakan sangat tepat dan efisien.

2 Responses to CAPAIAN HASIL IB KAMBING PE WILAYAH PANTAI

Leave a Reply to Setyo Utomo Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *