Pengabdian Masyarakat

CONTOH PROPOSAL IBM YANG DISETUJUI 2011

Judul : IbM DESA TANJUNGHARJO UNTUK MENINGKATKAN REPRODUKSI DOMBA LOKAL MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI FLUSHING PAKAN, SINKRONISASI ESTRUS DAN INSEMINASI BUATAN
Analisis Situasi
Desa Tanjungharjo berada di wilayah Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo memiliki potensi dalam bidang peternakan dan pertanian. Data di lapangan menunjukkan bahwa jumlah kepemilikan domba rata-rata 3,1 ekor/orang, dengan pola pemeliharaan tradisional. Dari hasil penelitian Rasminati (2009) desa Tanjungharjo merupakan desa yang subur dengan luas areal sawah sangat subur 145,45 Ha, ditanami berbagai jenis tanaman pangan seperti padi, kacang tanah, kedele, jagung, ubi kayu, pisang, rambutan, mangga, semangka, cabe, terong. Adapun luas produksi berbagai jenis tanaman pangan tersebut adalah padi supra insus seluas 57 Ha/th, tanaman jagung luas produksi 11 ton/Ha, ubi kayu 0,5 ton/Ha, pisang 690 ton/tahun, mangga 17 ton/tahun, rambutan 0,5 ton/tahun dan salak 0,5 ton/tahun.Masyarakat yang bekerja pada sub sektor peternakan meliputi pemilik sapi berjumlah 532 orang, pemilik kambing  451 orang,  pemilik ayam 2001 orang,  pemilik domba 204 orang, pemilik itik 83 orang dan buruh peternak 804 orang sehingga total 3.367 orang. Populasi ternak yang ada terdiri atas sapi 776 ekor, kambing 441 ekor, domba 428 ekor dengan rata-rata kepemilikan ternak  sapi potong 1,46 ekor/KK, kambing 0,98 ekor/KK dan domba 2,09 ekor/KK (Rasminati, 2009). Khusus untuk ternak domba,  sebagian besar (67%) bangsa domba yang ada di desa Tanjungharjo adalah Domba Ekor Gemuk (DEG). Namun secara kualitas genetik, ternak domba yang ada saat ini masih belum baik, selain itu pertambahan populasinya masih lambat. Hanya terdapat beberapa peternak domba yang mempunyai kualitas genetik unggul (DEG dengan kualitas baik). Selain itu, pada umumnya jarak kelahiran ternak domba di wilayah Tanjungharjo saat ini masih relatif panjang (9 – 10 bulan) dengan jumlah anak sekelahiran rata-rata 1 – 2 ekor.

Peternak di wilayah Tanjungharjo belum terbiasa dengan teknologi untuk meningkatkan produktivitas ternaknya, baik teknologi pakan maupun teknologi di bidang reproduksi. Mereka belum mengenal Inseminasi Buatan (IB) untuk ternak domba, serta belum menerapkan teknologi flushing pakan untuk memperbaiki kualitas pakan domba. Selama ini teknik perkawinan  domba dilakukan secara alami, dengan membiarkan ternaknya kawin ketika betina domba berahi dengan pejantan yang seadanya.

Melalui teknologi IB menggunakan pejantan-pejantan unggul terpilih dari bangsa domba lokal, memungkinkan penyebaran kualitas genetik domba akan segera terwujud di masyarakat.  Penerapan sinkronisasi dimungkinkan akan lahir domba-domba yang mengalami peningkatan kualitas secara bersamaan sehingga dapat mempercepat penyebaran kualitas genetic domba local.

Kebiasaan peternak yang membiarkan ternaknya menyapih sendiri, kemudian baru dikawinkan lagi dapat mempengaruhi interval kelahiran. Selain itu pemberian pakan yang kurang memenuhi  kebutuhan ternak juga akan memperpanjang interval kelahiran. Interval kelahiran dipengaruhi oleh perkawinan kembali setelah melahirkan, lama bunting, waktu penyapihan cempe dan produksi pakan di desa Tanjungharjo.

Upaya peningkatan kualitas reproduksi juga dapat ditempuh melalui pemberian pakan (penguat) tambahan yang dinamakan flushing.  Dengan flushing diharapkan akan mempercepat waktu terjadinya estrus/birahi bagi domba-domba calon induk (hasil penelitian umur pertama kawin domba di wilayah tersebut adalah 13 bulan) menjadi sekitar 10 bulan.  Estrus kembali setelah beranak hasil penelitian daerah tersebut (Utomo, 2009) rata-rata adalah 6 bulan, sehingga dalam 1 tahun hanya diperoleh 1 kali beranak.  Penelitian flusing pakan dengan penambahan kuning telur pada induk-induk domba menunjukan pengaruh yang sangat nyata terhadap timbulnya birahi dan angka kebuntingan domba ekor gemuk di wilayah tersebut (Utomo, 2009). Melalui teknologi flushing akan terjadi estrus yang lebih cepat (menjadi 3 bulan pasca beranak), sehingga akan dihasilkan 3 kali beranak dalam 2 tahun. Selain itu dengan pakan flushing, akan meningkatkan lamb crop 10 – 20%, sehingga akan mempercepat pertambahan populasi domba dengan kualitas yang baik.

Peningkatan kemampuan reproduksi ternak domba akibat pemberian pakan flushing pada akhirnya akan mampu meningkatkan populasi ternak domba secara lebih cepat, karena domba akan efisien dalam aktivitas reproduksinya.  Peningkatan efisiensi reproduksi ini jelas akan meningkatkan populasi ternak di suatu wilayah, sekaligus peningkatan pendapatan masyarakat.

Keberadaan mitra akan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan model dan teknologi yang akan diterapkan di masyarakat.  Disamping itu mitra juga memandang kemanfaatan teknologi ini akan benar-benar bermanfaat terutama untuk meningkatkan kualitas genetik serta meningkatkan efisiensi reproduksi domba lokal yang dipelihara peternak. Hal lain yang mendukung pemanfaatan teknologi ini adalah, bahwa melalui mitra dapat menyampaikan perlunya perbaikan manajemen dalam pemeliharaan ternak domba terutama dalam pemberian pakan dan manajemen reproduksinya. Melalui mitra, teknologi IB dan pemberian pakan flushing dapat diterapkan oleh masyarakat secara langsung sehingga diharapkan desa Tanjungharjo akan mempunyai domba dengan kualitas genetik yang baik dengan tingkat pertumbuhan (ADG) yang tinggi dan kemampuan reproduksinya juga baik.

Permasalahan Mitra
Secara  kualitas genetik, ternak domba yang ada saat ini di desa Tanjungharjo masih belum baik, selain itu pertambahan populasinya masih lambat, yang ditunjukkan dengan rendahnya angka ADG yaitu 30 – 45 g/hari (Rasminati, 2009) dan angka reproduksinya yaitu hanya 2 kali beranak dalam 2 tahun (1 kali beranak setiap tahunnya). Hanya terdapat beberapa peternak domba yang mempunyai kualitas genetik unggul (DEG dengan kualitas baik). Selain itu, pada umumnya jarak kelahiran ternak domba di wilayah Tanjungharjo saat ini masih relatif panjang (9 – 10 bulan) dengan jumlah anak sekelahiran rata-rata 1 – 2 ekor.  Permasalahan lain adalah umur beranak pertama yang relatif panjang yaitu rata-rata 13 bulan dan kembalinya estrus (birahi) setelah beranak yang terlalu lama (rata-rata 6 bulan (Utomo, 2009).Peternak di wilayah Tanjungharjo belum terbiasa dengan teknologi untuk meningkatkan produktivitas ternaknya, baik teknologi pakan maupun teknologi di bidang reproduksi. Mereka belum mengenal Inseminasi Buatan (IB) untuk ternak domba, serta belum menerapkan teknologi flushing pakan untuk memperbaiki kualitas pakan domba. Selama ini teknik perkawinan  domba dilakukan secara alami, dengan membiarkan ternaknya kawin ketika betina domba berahi dengan pejantan yang seadanya.

Hasil penelitian sebelumnya di wilayah tersebut menunjukkan bahwa pemberian flushing berupa kuning telur berpengaruh sangat nyata terhadap tingkat intensitas estrus dan angka kelahiran domba ekor gemuk (DEG) (Utomo, 2009).

Berdasarkan potensi pakan yang cukup baik, permasalahan manajemen baik manajemen pemberian pakan, manajemen reproduksi maupun permasalahan bibit menjadi kendala utama usaha ternak domba di wilayah Tanjungharjo.

Solusi yang ditawarkan
Pendekatan yang dilakukan terhadap permasalahan tersebut di atas, diantaranya adalah melalui pendekatan dengan pemerintah desa Tanjungharjo untuk mensinergikan kegiatan – kegiatan  dalam program pemerintah desa  khususnya yang berkaitan dengan permasalahan untuk meningkatkan produktivitas ternak domba.  Solusi diarahkan melalui penggunaan teknologi yang benar-benar dapat dilakukan oleh masyarakat dengan potensi yang tersedia, murah dan mudah dilaksanakan.Metoda pendekatan yang ditawarkan untuk mendukung realisasi program adalah dengan mengajak masyarakat melaksanakan perhitungan usaha ternak domba yang sudah dijalankan sampai dengan capaian hasil yang sudah dirasakan.  Kemudian melakukan perhitungan dan analisis ekonomi, jika domba yang ada dioptimalkan terutama secara reproduksinya, yaitu beranak 3 kali dalam 2 tahun dengan kualitas ternak yang relatif lebih baik.  Sehingga akan timbul kesadaran usaha yang secara sukarela akan melaksanakan penerapan IPTEK yang ditawarkan.  Kegiatan ini dilakukan melalui pertemuan dengan kelompok ternak yang ada di desa Tanjungharjo dalam bentuk kegiatan diklat.

Rencana kegiatannya adalah perbaikan kualitas keturunan domba yang sudah ada melalui penerapan teknologi flushing pakan baik bagi calon induk (domba yang berumur 9 – 10 bulan) maupun bagi induk (2 – 3 bulan) pasca beranak.  Terapan teknologi selanjutnya adalah melalui sinkronisasi birahi (estrus) menggunakan perlakuan hormonal PGF2α secara IM (dosis 0,5 ml/ekor) yang dilakukan berulang dengan selang waktu 11 hari dari penyuntikan pertama, kemudian penerapan perkawinan dengan teknologi IB semen segar (dengan pengencer citrat kuning telur) menggunakan pejantan domba lokal terpilih yang memiliki keunggulan secara fenotipik.

Sehingga secara rinci solusinya adalah :

1.    Perbaikan manajemen pakan pada domba calon induk dan induk pasca melahirkan dengan pemberian flushing.

2.    Sinkronisasi estrus pada ternak domba.

3.    Pemilihan pejantan domba lokal yang memiliki keunggulan secara fenotip.

4.    Perkawinan domba dengan teknik IB.

Partisipasi mitra dalam pelaksanaan program ditunjukkan dengan adanya dukungan dan kesanggupan kerja sama sebagai mitra dengan tim dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta dalam penerapan Ipteks bagi masyarakat. Partisipasi mitra ini ditunjukkan melalui pelaksanaan kegiatan secara bersama-sama dalam hal pemilihan dan penyiapan calon induk maupun induk, melaksanakan pemberian flushing, memilih pejantan yang baik dan disukai peternak, serta memelihara domba sesuai petunjuk pelaksanaan sebagaimana penerapan teknologi flushing, sinkronisasi estrus, merawat kebuntingan sampai beranak.

Target Luaran
Dari kegiatan penerapan teknologi ini akan dihasilkan luaran berupa :

1.    Perubahan mindset peternak dalam memelihara domba yang berorientasi pada keuntungan (profit oriented).

  1. Umur beranak pertama yang tepat (15 bulan) dari umur beranak pertama 20 bulan.

3.    Peningkatan  jarak beranak (lambing interval) dari 2kali/2 tahun menjadi 3 kali/2 tahun serta adanya peningkatan kualitas genetik domba yang ada di wilayah mitra.

4.    Peningkatan lamb crop 10 – 20%

Kelayakan PT